Pandemi COVID-19, Picu Banyak Bujang Ingin Akhiri Hidup

Pandemi COVID-19, Picu Banyak Bujang Ingin Akhiri Hidup

VIVA   –  Pandemi COVID-19 diketahui berdampak bukan cuma pada kesehatan fisik selalu, melainkan juga pada kesehatan mental anak. Bahkan selama pandemi ini, banyak anak-anak yang melukai dirinya tunggal atau self harm.

Hal ini diungkapkan sebab spesialis kejiwaan, dr. Anggia Hapsari, Sp. KJ (K), dia menyebut di tempatnya praktik selama 15 bulan terakhir banyak anak-anak yang melakukan self harm . Bukan cuma itu saja, di tempatnya praktik juga banyak anak-anak yang berpikiran untuk melayani percobaan bunuh diri.

Lantas apa pengantara utama banyaknya kasus tersebut selama pandemi? Terkait peristiwa itu, Anggia menjelaskan kalau adanya keterbatasan selama pandemi membuat anak menjadi merasa kosong atau hampa (empty). Dari situ mulai muncul perasaan sakit hingga berangsur-angsur menuju percobaan self harming atau menyakiti diri tunggal.

“Kebanyakan anak-anak itu mau sesuatu yang serba instan. Anak-anak generasi z mereka dalam segala hal mau serba instan. Jadi pada hal menyelesaikan masalah kendati mereka ingin instan pada hal emosi pun ingin instan. Jadi ketika itu berhadapan dengan keterbatasan mereka tidak bisa ketemu saudara, mereka enggak punya temen curhat, gak ada pekerjaan itu membuat mereka menjelma merasa empty, sepi. Ketika merasakan empty mulai berantara mereka merasa pain jika mereka merasakan pain itu melakukan percobaan self harming , ” kata Anggia dalam vitual conference, Kesehatan Mental Anak dan Cukup umur di Masa Pandemi RSPI, Selasa 29 Juni 2021.

Lebih lanjut, dijelaskan, Anggia ketika anak melakukan pemeriksaan self harming dan merasa tidak cukup, anak kemudian menjadi frustasi dan mampu berujung pada pemikiran untuk mengakhiri hidupnya.