Saat Ditangkap, Gus Nur Tak Sempat Telepon Pengacara

Saat Ditangkap, Gus Nur Tak Sempat Telepon Pengacara

VIVA   –  Gus Nur atau Sugi Nur Raharja ditangkap Bareskrim Mabes Polri di rumahnya di Jalan Cucak Rawun Sundal, Pakis, Kabupaten Malang, Sabtu, 24 Oktober 2020. Gus Nur ditangkap saat tengah malam.  

Putra kedua Gus Sinar, yakni Muhammad Munjiat (21 tahun) mengungkapkan saat penangkapan ayahnya tak sempat menelepon pengacaranya Andry Ermawan yang berada di Surabaya. Sebab, saat akan menelepon hand phone milik Sugi Nur diambil personel penjaga.  

“Gus Sinar mencoba menghubungi lawyer di Surabaya, akan tetapi hand phone -nya diambil. Sudah dijelaskan mau telepon adjuster tapi tidak dihiraukan saat tersebut posisi di ruang tengah, ” kata Munjiat di rumahnya.  

Baca juga:   Rumpun Cerita Penangkapan Gus Nur: Sedang Malam dan Ada 30 Polisi

Munjiat mengatakan, zaman penggeledaan polisi menyita sejumlah bahan bukti dari Rumah Gus Sinar. Barang bukti itu antara asing, sebuah laptop, 4 buah hard disk , 3 hand phone salah satunya milik Munjiat dan memori micro sd .

“Saat digrebek posisi di rumah ada saya, adik-adik saya, ada mama dan saudara. Kalau barang yang disita itu, laptop 1, 4 buah hard disk , 3 hand phone salah satunya milik saya dan memori micro sd , ” ujar Munjiat.  

Munjiat mengungkapkan, masa ini langkah yang diambil tim adalah berkoordinasi dengan kuasa adat yang ada di Jakarta. Gus Nur sendiri telah memberi informasi kepada keluarga jika sedang ditahan di Mabes Polri. Sugi Sinar telepon keluarga menggunakan hand phone milik polisi di Mabes Polri.  

“Posisi Gus Sinar di Mabes Polri tadi jam 08. 00 WIB atau 09. 00 WIB sudah mengabari. Dengan ngabari Gus Nur lewat telepon polisi sebentar saja mengabarinya. Saat ini di serahkan ke kuasa kaidah. Masih menunggu keputusan kuasa hukum di Jakarta, ” tutur Munjiat.  

Diberitakan sebelumnya, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Cirebon Azis Hakim melaporkan Sigi Nur Rahardja alias Gus Nur terpaut dugaan ujaran kebencian yang dilakukannya terhadap ormas NU.

Menurut Azis, pihaknya membawa bahan bukti berupa rekaman pidato ataupun video yang di dalamnya memuat pernyataan Gus Nur. Adapun masukan tersebut diterima polisi dengan tulisan bernomor LP/B/02596/X/2020/Bares/ tanggal 21 Oktober 2020 terkait dugaan tindak pidana ujaran kebencian.

Bagi Azis, tradisi NU adalah saling meminta maaf dan memaafkan masa ada permasalahan. Namun Gus Sinar dinilainya telah berkali-kali menyakiti kepala masyarakat NU.